Bicara kualitas tentunya tak lari dari yang namanya harga. Ya harga itu menetukan baik buruknya sebuah kualitas, walaupun tak 100% pasti dan pasti 100%. Kasus tadi malam, ketika ku membeli sebuah tas pinggang di tempat yang sekiranya orang memang layak dari kualitas karena pembuktiannya. Pas sampai rumah aku langsung di beri sedikit marah oleh Ibu, yang di kata; mahal banget tas kayak gitu!! Langsung saja aku jelaskan maksud dan tujuanku membeli ini tas. Harganya memang sudah seperti itu, banyak orang yang membenarkan atas harga yang di tawarkan bu. Jadi tak apalah bu, toh aku juga jarang sekali berbelanja apalagi mengeluarkan uang lebih dari ini. Daripada itu uang habis ku belikan pulsa, mendingan ku beli ini ya bu. Sesekali lho, mumpung lagi mendapat uang. Hasil dari sebulan usahaku.
Kalau ada kesal, kalau tidak ada kok kangen..
Sebut saja Poku, kelinci dari kakaku Rani. Poku itu menggemaskan, kelinci yang di belinya 7 bulan lalu di Bogor. kalau boleh ku rasa dia lain dari yang lain. Matanya coklat, mempunyai 3 warna (putih, coklat, abu-abu), apa saja iya makan (baik, nasi, kerupuk, cabe hijau, bahkan es batu sekali pun). Dalam kesehariannya Poku tak pernah merasakan yang namanya di kurung, iya di biarakan melepas oleh Ibuku. Sebenernya sedikit membuat resah juga di kala Ibu sedang repot-repotnya masak makanan di dapur, si Poku selalu hadir untuk mendapat jatah makanan, meskipun baru saja di beri se plastik kankung. Dasar kau lucu.
Tingkahnya mulai aneh 3 minggu belakangan ini, orang rumah mulai di takutkan dengan tingkahnya yang menggigiti sendal dan beras yang di karungi, entah terkena virus apa itu hewan. Contoh, sendalku menjadi korban atas tingkah anehnya, kata Ibuku; ini lapar atau rakus!? Tertawa saja aku menanggapi itu. Di tambah lagi dengan kecemasan Bapak, yang menanyakan keberadaanya ketika Poku tak berada di dalam rumah. Tak taunya Poku sedang tidur di gudang samping rumah.
Poku, kenapa kau tak semestinya yang hewan lain lakukan?
Teringat masih 5 tahun lalu di saat maraknya game online meranah ke para perlajar, yang membuatku dan teman-teman sampai terbius candunya perang Counter Strike. Lucu sekali, setelah bel sekolah berbunyi kami menyegerakan diri untuk pergi ke sana, sana Warnet yang tak jauh dari sekolah kami SMP Negeri 72 Jakarta, sekolah yang ku pilih pasca tamatnya pendidikan dasar karena baik di kata orang. Kami bergegas cepat ke agar mendapat tempat untuk kami berperang, berperang mambuat tim yang kokoh guna mengetahui siapa yang handal dalam Counter Strike ini. Ooh Agung Ooh Hendri, kapankah kita mengulang kembali itu..
Katanya.. begitulah kata-kata yang Pak Muji ucapkan pada dahulu saat mengajar Aku di kelas.. Bicara soal penjelasan komputer tentu harus harus di sertai bukti, hasil, maupun tesis sekalipun.. Mengapa? Karena bagaimana kita dapat di percaya orang apabila ada yang bertanya tetapi kita hampa akan pengalaman, uji praktek dan wawasan membaca.. Yang ada orang hanya akan memandang kita, ‘lho, jawaban dari mana itu? Apa buktinya? Apakah Kamu pernah mencobanya? Lucu kan kalau menjawab saja asal bicara.. Tapi aku yakin yang Pak Muji jelaskan sudah mengalami beberapa uji lapangan.. toh sekarang pun Aku jadi mengerti..
aku jadi kangen belajar bareng Bapak lagi nih, katanya..

